OJK Nilai Ada Bank yang Egois

0
1226

JAKARTA, KOMPAS.com – Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D Hadad menilai ada sejumlah bank yang mengerjakan bisnisnya secara egois.

Maksudnya, bank ini lebih mementingkan aktivitas dagang untuk kepentingan sendiri (proprietary tradings).

“Hasil surveillance yang kami lakukan menunjukkan bahwa aktivitas proprietary tradings dalam pasar valuta asing yang dilakukan oleh beberapa bank nampak lebih dominan dibandingkan peran bank-bank tersebut sebagai lembaga intermediasi,” kata Muliaman di Jakarta, Jumat (29/4/2016).

Padahal, ungkap Muliaman, fungsi intermediasi perbankan sangat penting dalam membiayai sektor-sektor prioritas yang tengah dicanangkan pemerintah, seperti infrastruktur yang membutuhkan pembiayaan tinggi.

“Saya hanya ingin sampaikan bahwa pada waktunya, terhadap bank-bank tersebut akan kami mintakan komitmennya agar lebih berperan aktif dalam merealisasikan fungsi intermediasi terutama untuk membiayai berbagai sektor prioritas yang telah digadang oleh Pemerintah dalam rangka mencapai pertumbuhan ekonomi yang diharapkan,” ujar Muliaman.

Meskipun begitu, Muliaman enggan menyebutkan bank mana yang lebih mengutamakan kegiatan proprietary tradings ketimbang menjalankan fungsinya sebagai lembaga intermediasi tersebut.

Apa yang terjadi itu, imbuh Muliaman, bertentangan dengan upaya OJK yang kini tengah mendorong industri jasa keuangan baik konvensional maupun syariah untuk mendukung pembiayaan sektor produktif seperti infrastruktur.

Kepastian pembiayaan merupakan kunci dari berjalannya pembangunan infrastruktur.

Sebab, pembangunan infrastruktur merupakan proyek jangka panjang sehingga membutuhkan arus kas yang stabil dan dapat diprediksi.

Belum lama ini, Muliaman mengatakan, berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) kebutuhan investasi di sektor infrastuktur di Indonesia sampai 2019 mencapai 419 miliar dollar AS.

Total potensi pembiayaan dari perbankan, pasar modal, dan industri keuangan nonbank diperkirakan mencapai 39 miliar dollar AS atau berkontribusi sekitar 10 persen dari total kebutuhan investasi di sektor infrastruktur.

Penulis : Sakina Rakhma Diah Setiawan
Editor : M Fajar Marta

Leave a Reply