Maicih, dari hobi pria 27 tahun jadi bisnis ratusan juta

0
1212

Merdeka.com-“Prinsipnya bahwa usaha yang dijalankan itu emang enak datang dari hobi,” tukas owner Maicih, Dimas Ginanjar Merdeka atau akrab disapa Bob Merdeka. Meski jatuh bangun usaha yang tengah digeluti, bahkan sampai terlilit utang, Bob akhirnya kembali kepada hati nurani. Bob pilih usaha keripik jadikan profesinya.

“Hobi saya itu cuma makan keripik pedas, hingga akhirnya saya coba tekuni. Padahal saya pernah bikin EO, coba ke distro, furniture, dan lain-lain, tapi gagal,” terangnya.

Dalam satu kesempatan, Bob menyisihkan waktunya untuk bisa berbagi kisah sukses tentang keripik fenomenal tersebut kepada merdeka.com.

Tak sulit orang menemui makanan berbahan dasar singkong. Tapi di tangan pria 27 tahun itu, keripik singkong disulap menjadi makanan yang bergengsi dan bernilai tinggi. Bahkan pernah suatu ketika keripik yang memiliki tiga tingkatan pedas itu pernah ludes hingga ratusan ribu paperbag dalam sebulannya. Luar biasa!

Bob yang sedang menanti kelahiran anak pertamanya itu menceritakan awal mula memperkenalkan produknya itu. Unik memang. Pria yang pernah tercatat sebagai mahasiswa jurusan administrasi bisnis di Universitas Parahyangan (Unpar) Bandung tersebut hanya menceritakan tokoh fiktif seorang nenek-nenek melalui jejaring sosial twitter.

Melalui account @bobmerdeka dirinya berimajinasi seorang nenek dengan pekerjaannya. Bob menceritakan segala aktivitas nenek tua lewat situs 140 karakter tersebut. Dari situ follower nenek fiktif terus digemari cerita-ceritanya hingga akhirnya menginspirasi.

Dibuatlah account @maicih. Bob Merdeka memanfaatkannya untuk jualan, tapi jejaring sosial ciptaan Jack Dorsey, tak melepas image nenek tua fiktif itu dengan pekerjaannya.

“Tak lama itulah, permintaan mulai banyak. Saya sehari produksi 10 biji habis, dan itu dilakukan dalam enam bulan, 10 biji itu modal saya Rp 50 ribu, dapatnya saya Rp 100 ribu,” ujar pria supel ini.

Dia menyadari ke-eksisan Maicih di Twitter berdampak positif di bisnisnya itu. Segala sesuatu yang ditulis di jejaring sosial mendapat respon dari ribuan followernya itu. Bahkan ragam masukan, ide didapat.

Usahanya kian berkembang, hingga akhirnya Bob mulai memproduksinya sendiri. “Awalnya dibuat sama teman, tapi karena permintaan semakin banyak, saya mulai pikirkan untuk produksi,” kata Bob yang kini Maicih sudah berbadan CV.

Maret 2011 silam, segala sesuatunya Bob kerjakan sendiri. Bob mencari karyawan yang kiranya bisa membantu usaha yang mulanya dirintis dengan adiknya.

“Pada Maret itu kita mulai pisah, karena ada perbedaan prinsip,” ungkapnya. Maicih Bob memiliki gambar nenek-nenek menghadap depan. Sedangkan Maicih adiknya Nenek-nenek menghadap samping dengan ‘ciput’ khasnya.

“Ini sudah jalannya, Tuhan sudah mengatur rezeki kita,” jawabnya.

Usaha Maicih nya kini kian berkembang. Meski, usaha keripik pedas saat itu begitu menjamur di Kota Bandung, namun Maicih miliknya bertahan bahkan begitu berkembang pesat. Hal itu bisa dilihat dari 100 outlet resmi yang sudah tersebar di seluruh Indonesia.

“Ya inilah hobi saya, kini makan keripik bisa dilakukan kapan saja. Dan hobi ini saya tekuni hingga jadi profesi,” ujarnya.

Masih tak puas, Bob juga berencana berekspansi keripik super pedasnya tersebut ke luar negeri. “Saya bukan cuma ingin Maicih itu jadi ikon Bandung saja, tapi ikonnya Indonesia,” imbuhnya optimis.

Ke depannya, brand Maicih tak melulu keripik, tapi ada varian lainnya. “Meski andalannya keripik, tapi kita coba inovasi juga saat ini ada sekitar 10 produk,” jelasnya.

Kini Bob Merdeka, di tengah masa keemasannya, sedang menikmati kriuknya rupiah yang jauh lebih besar dari pertama uang yang digelontorkannya yakni Rp 50 ribu.

Keripik Maicih sendiri memliki level yang berbeda untuk tingkatan 3 dan 5 Bob banderol Rp 13 ribu, sedangkan super pedas atau level 10 dihargai Rp 15 ribs.

Sumber: Merdeka.com

Leave a Reply