Drs H Mulyadi, MMA: “Ya Allah, Muliakanlah Jawa Barat”

0
398

SuaraGerindra.com–Suara kebatinan seorang Drs H Mulyadi, MMA tertuang dalam jargonnya: “Ya, Allah Muliakanlah Jawa Barat”. Ada pesan moral yang terkandung di dalamnya. Betapa indahnya menjalani hidup jika segalanya diawali dari kemuliaan batiniah dan kesolehan ahlakulkarimah.

Apa pun pekerjaannya, kata Ketua DPD Gerinda itu, niscaya akan berbuah baik jika dilakukan dengan kemuliaan batin dan niat karena Allah. “Apalah artinya aktifitas yang dijalankan hari demi hari tanpa diiringi ridho Allah SWT. Sangatlah merugi tatkala kesempatan karir yang semakin terbuka luas tetapi tidak disandarkan kepada tujuan menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran dan keadilan,” paparnya ketika berbincang di Bandung, beberapa waktu lalu.

Lalu, apa yang akan diaplikasikan dari jargon itu? Jawa Barat sudah sedemikian heterogen, lanjutnya. Sebagai propinsi yang terus berkembang, tentu harus diiringi dengan keseimbangan moral dan mental masyarakatnya. Tak bisa ditepis memang, jika pengaruh modernisasi di propinsi ini merangsek begitu cepat ke seantero pelosok Jawa Barat. Eksesnya muncul fenomena-fenomena baru di masyarakat.

Pergaulan bebas, tingkat kriminalitas, kesenjangan sosial dan fenomena lain di setiap pelosok kabupaten/kota di Jawa Barat, sejatinya jadi motivasi bagi setiap kepala daerah untuk terus menyuarakan pentingnya memperkokoh keimanan dan ketaqwaan dalam upaya menciptakan Jawa Barat yang mulia.Ukhuwah islamiah, habdulminanas habdulminaloh adalah kata kunci dalam rangka menyatukan keberagaman keyakinan yang terjadi di masyarakat.

“Jawa Barat harus mulia di hadapan Allah. Para pemimpin dan pejabatnya harus memiliki ahlak baik menuju kemuliaan yang kita inginkan,” ujarnya.

Dalam menjalani kiprahnya baik di dunia politik maupun dunia karir/bisnis, Drs H Mulyadi selalu memegang prisif religiusnya yaitu menggapai Ridho Alloh SWT dalam segala aktifitas demi menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan. Apalagi ketika ia masih jadi anggota DPR/MPR secara tegas ia memegang teguh bahwa melaksanakan tugas dan kewajiban itu adalah sebagai amanah.

Aplikasinya selalu menyerap aspirasi masyarakat terutama di Daerah Pemilihan Jawa Barat V Kabupaten Bogor serta bersama HMS Strategi menyelenggarakan kegiatan- kegiatan keagamaan, sosial kemasyarakatan, olah raga dan pemberdayaan pemuda.

“Memperlakukan masyarakat harus dimulai dari pemikiran bagaimana kita harus mampu membangun dulu jiwanya, sebab tanpa dasar itu generasi akan rapuh kehilangan arah pijakan,” ujar Drs H Mulyadi.

Karir politik

Meniti karir di dunia politik, hanya berbekal satu kekuatan moral, yaitu kekuatan idealisme untuk berbakti pada masyarakat. Perlahan tapi pasti Drs.H.Mulyadi pun akhirnya duduk di kursi dewan, Senayan. Lantas, apa itu tujuan akhir? Tentu tidak, jawabnya tegas. Jadi anggota dewan adalah “skenario langit” yang harus diaktualisasikan sebagai amanah rakyat yang berdosa jika diabaikan. Semangat idealisme untuk mengabdi kepada masyarakat semata, adalah dorongan selama ia duduk di kursi DPR dari Fraksi Gerindra Komisi VII.

Keberpihak kepada rakyat tak pernah surut menghantarkan langkah kakinya dalam menjalankan amanahnya. Mendorong peningkatan kemakmuran bangsa dan negara.

Terbukti, disaat negeri ini sedang dalam kondisi sangat prihatin atas kondisi Energi nasional, ia meluncurkan gagasannya yaitu “revolusi energi”. Ia meyakini Indonesia kaya potensi alam sebagai sumber devisa atasi defisit anggaran.

Tepatnya 19 Oktober 2012, Mulyadi mulai dilantik jadi Anggota DPR RI, dengan tekad kuat bahwa kiprah politik yang diawalinya ini tetap dalam koridor kebenaran. Berharap, seluruh aspirasi masyarakat terutama dari Daerah Pemilihan Jabar V Kabupaten Bogor mampu tersalurkan dan terakomodir di DPR RI, walaupun ternyata hal itu tidaklah mudah.

Menurutnya, upaya tersebut harus diiringi dengan kesabaran, daya juang, dan terpenting keistiqomahan sehubungan panasnya kancah politik terkadang dihadapkan pada
“ dinding tembok” kekuatan kekuasaan yang dipolitisir oleh segelintir “oknum” yang hanya bermuatan kepentingan pribadi. Sekalipun demikian, secercah harapan untuk mewujudkan idealisme itu tetap ada. ***

Leave a Reply